Makalah Bahasa Arab Istifham
ISTIFHAM
A. Pendahuluan
Pada hakikatnya tafsir merupakan sebuah
proses dan produk pemikiran terhadap al Qur’an. Dalam menafsirkan suatu ayat al
Qur’an, seorang mufasir memerlukan beberapa disiplin ilmu. Hal tersebut
bertujuan untuk meminimalisir kesalahan dalam penafsiran ayat al Qur’an.
Diantara disiplin ilmu yang diperlukan ialah ilmu bahasa (nahwu, sharaf,
balaghah), ushul fiqh, asbabun nuzul, nasikh wa mansukh dan ilmu
pendukung lainnya. Dalam ilmu bahasa yang paling urgen untuk dipahami ialah
tentang beberapa kaidah nahwu yang dapat membantu memahami teks
melalui pendekatan bahasa. Salah satunya ialah kaidahistifham yang
terdapat dalam al Qur’an.
Tak sedikit ayat al Qur’an yang menanyakan
tentang sesuatu yang bersifat khusus atau pun umum. Sedangkan kata yang
digunakan sebagai kata tanya ada beberapa macam. Makna yang terkandung pun bisa
bermacam-macam. Oleh karena itu kiranya sangat diperlukan penjabaran tentang
kaidah istifham dalam al Qur’an agar ayat-ayat tersebut dapat dipahami sesuai
dengan tujuan ayat tersebut turun. Wallahu a’lam.
B. Huruf Istifham
1.
Hamzah
2.
Hal
3.
Maa
4.
Man
5.
Mataa
6.
Ayyaana
7.
Kaifa
8.
Aina
9.
Annaa
10.
Kam
dan
11.
Ayyu.
C.
Pengertian
Istifham
Istifham berasal
dari bahasa Arab, masdar dari kata istafhama yang berartiistaudhaha.
Akar katanya adalah fahima yang berarti faham,
mengerti, jelas. Akar kata ini mendapat tambahan alif, sin dan ta’ di
awal kata yang salah satu fungsinya adalah untuk meminta. Dengan demikian itu
berarti permintaan penjelasan (thalabul fahmi).[1] Sedangakan
secara istilah, istifham menurut Al Zarkasi adalah mencari pemahaman tentang
suatu hal yang tidak diketahui.[2]
Selain itu, istifham juga bisa dikatakan merupakan
bentuk kalimat yang dipergunakan untuk mendapatkan informasi yang jelas tentang
suatu masalah yang belum diketahhui sebelumnya.[3]
D. Penjelasan Adawatul Istifham atau Huruf
Istifham (Kata Tanya)
Sebagaimana
kaidah-kaidah bahasa Arab lainnya, istifham juga memilikiAdawat (adat-adat)
sebagai ciri khas yang dapat membedakannya dengan kaidah lainnya.
Adawatul
istifaham terbagi menjadi dua kategori, yaitu
1.
Huruf istifham berupa hamzah dan hal yang
artinya apakah.
a.
Huruf hamzah,
digunakan untuk menanyakan tentang apa atau siapa yang jawabannya memerlukan :
ya atau tidak. Selain ituuntuk menghadapi atau memberikan pengertian kepada
orang yang ragu-ragu atau mendustakan.
Contoh:
|MRr&uä… |Mù=è% Ĩ$¨Z=Ï9 ÎTräϪB$# uÍhGé&ur Èû÷üyg»s9Î) `ÏB Èbrß «!$# ( tA$s% y7oY»ysö6ß $tB ãbqä3t þÍ< ÷br&tAqè%r& $tB }§øs9 Í< @d,ysÎ/ ...
…Engkaukah
yang berkata kepada orang: Sembahlah aku dan ibuku sebagai Tuhan selain Allah?”
Ia berkata, “Maha suci Engkau! Tidak sepatutnya aku mengatakan apa yang bukan
menjadi hakku… (QS. Al Maidah: 116)
b. Lafal hal adalah kata tanya
untuk konfirmasi, yang memerlukan jawaban : ya atau tidak. Bisa juga
digunakan untuk pengingkaran dan maknanya adalah menafikan kalimat
sesudahnya. Contoh:
ö@yd 4tAr& n?tã Ç`»|¡SM}$# ×ûüÏm z`ÏiB Ì÷d¤$!$# öNs9 `ä3t $\«øx© #·qä.õ¨B ÇÊÈ
Bukankah
sudah berlalu pada manusia masa yang panjang dari waktu ketika dia bukan
apa-apa (bahkan) tidak disebut-sebut? (QS.
Al Insan: 1)
2. Isim
istifham berupa ma (apa), man (siapa), kaifa (bagaimana), mata (kapan),ayyana (bilamana), anna (dari
mana), kam (berapa), aina (di mana), ayyu (apa,
siapa).
a. Lafal ma (apa), digunakan
untuk menanyakan sesuatu yang tak berakal. Atau untuk menuntut
definisi hakikat yang ditanyakan.Contoh:
$tB óOä3x6n=y Îû ts)y ÇÍËÈ (#qä9$s% óOs9 à7tR ÆÏB tû,Íj#|ÁßJø9$# ÇÍÌÈ
Apa yang
membawa kamu ke dalam api neraka?” Mereka berkata, “Kami tak termasuk golongan
orang yang shalat”. (QS. Al Muddatstsir:
42- 43)
øÎ) tA$s% ÏmÎ/L{ ¾ÏmÏBöqs%ur $tB ÍnÉ»yd ã@ÏO$yJG9$# ûÓÉL©9$# óOçFRr& $olm; tbqàÿÅ3»tã ÇÎËÈ
(Ingatlah),
ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: "Patung-patung apakah
ini yang kamu tekun beribadat kepadanya?" (QS.
Al Anbiya: 52)
b. Lafal man (siapa), digunakan
untuk menanyakan makhluk berakal. Contoh:
`¨B #s Ï%©!$# ÞÚÌø)ã ©!$# $·Êös% $YZ|¡ym ¼çmxÿÏè»Òãsù ÿ¼ã&s! $]ù$yèôÊr& ZouÏW2 ...
Siapakah
yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan
hartanya di jalan Allah), maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran
kepadanya dengan lipat ganda yang banyak… (QS.
Al Baqarah: 245)
c. Lafal kaifa (bagaimana),
digunakan untuk menanyakan keadaan sesuatu. Contoh:
y#øx.ur tbrãàÿõ3s? öNçFRr&ur 4n=÷Fè? öNä3øn=tæ àM»t#uä «!$# öNà6Ïùur ¼ã&è!qßu 3 ...
Bagaimanakah
kamu (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan
Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu… (QS.
Ali Imran: 101)
d. Lafal mata (kapan),
digunakan untuk menanyakan waktu, baik yang lampau maupun yang akan datang.
Contoh:
4ÓtLtB… uqèd ( ö@è% #Ó|¤tã br& cqä3t $Y6Ìs% ÇÎÊÈ
…"Kapan itu (akan terjadi)?"
Katakanlah: "Mudah-mudahan waktu berbangkit itu dekat". (QS.
Al Isra’: 51)
e. Lafal ayyana (bilamana), digunakan
untuk menanyakan sesuatu berkenaan dengan waktu mendatang. Contoh:
ã@t«ó¡o tb$r& ãPöqt ÏpyJ»uÉ)ø9$# ÇÏÈ
Ia
berkata: "Bilakah hari kiamat itu?" (QS.
Al Qiyamah: 6)
f. Lafal anna (dari mana),
digunakan untuk menanyakan asal usul. Contoh:
tA$s% Éb>u 4¯Tr& Ücqä3t Í< ÖN»n=äî ÏMtR$2ur ÎAr&tøB$# #\Ï%%tæ ôs%ur àMøón=t/ z`ÏB Îy9Å6ø9$# $|ÏFÏãÇÑÈ
Ia
berkata: "Ya Tuhanku, bagaimana akan
ada anak bagiku, padahal isteriku adalah seorang yang mandul dan aku
(sendiri) sesungguhnya sudah mencapai umur yang sangat tua." (QS.
Maryam: 8)
g. Lafal kam (berapa),
digunakan untuk menanyakan jumlah atau bilangan.
Contoh:
tA$s%… öN2 |M÷VÎ7s9 ( tA$s% àM÷VÎ7s9 $·Böqt ÷rr& uÙ÷èt/ 5Qöqt ( tA$s% @t/ |M÷VÎ7©9 sps($ÏB 5Q$tã ...
…"Berapakah
lamanya kamu tinggal di sini?" Ia menjawab: "Saya tinggal di sini
sehari atau setengah hari." Allah berfirman: "Sebenarnya kamu telah
tinggal di sini seratus tahun lamanya…" (QS.
Al Baqarah: 259)
h. Lafal aina (dari mana),
digunakan untuk menanyakan tempat. Contoh:
( tûøïr'sù tbqç7ydõs? ÇËÏÈ
maka
ke manakah kamu akan pergi ? (QS. At Takwir: 26)
i. Lafal ayyu (apa, siapa),
digunakan untuk menanyakan apa atau siapa. Contoh:
r'sù… Èû÷üs)Ìxÿø9$# ,ymr& Ç`øBF{$$Î/ ( bÎ) ÷LäêZä. cqßJn=÷ès? ÇÑÊÈ
…Maka
manakah di antara dua golongan itu yang lebih berhak memperoleh keamanan (dari
malapetaka), jika kamu mengetahui? (QS. Al An’am: 81)
C. Makna
Istifham
Istifham seperti
yang dijabarkan di atas merupakan pengungkapan yang memiliki bermacam makna
bergantung pada siyaqul kalamnya.[4] Diantaranya
yaitu:
1. Untuk pengingkaran dan maknanya adalah untuk
menafikan kalimat sesudahnya. Karena itulah pertanyaan ini dapat diikuti oleh
Illa (إلا ), seperti Firman Allah Subhanahu wa
Ta’ala dalam QS. Al-Ahqaf: 35
2. Untuk menjelekkan. Sebagian ulama memasukkan
hal ini ke dalam bagian pengingkaran. Tetapi yang pertama berupa pengingkaran
untuk membatalkan dan yang kedua adalah pengingkaran untuk menjelekkan, seperti
Firman Allah Ta’ala dalam QS. Fathir: 37
3. Membawa pendengar untuk menetapkan dan
menyetujui sesuatu hal yang telah terjadi padanya, seperti Firman Allah Ta’ala
dalam QS. Adl-Dluha :6-7
4. Untuk takjub dan membuat takjub, seperti
dalam QS. Al-Baqarah:28
5. Untuk menyindir, seperti Firman Allah Ta’ala
dalam QS. At-Taubah:43
6. Untuk memberikan peringatan. Firman Allah
Ta’ala QS. Yaasiin:60
7. Untuk membanggakan diri, seperti dalam QS.
Az-Zukhruf:51
8. Untuk membesar-besarkan, seperti dalam QS.
Al-Kahfi:49
9. Untuk menakut-nakuti, seperti QS.
Al-Qari’ah:1-2
10.
Untuk
memudahkan dan meringankan, seperti dalam QS. An-Nisaa:39
11.
Untuk
memberikan ancaman, seperti dalam QS. Al-Mursalat:16
12.
Untuk
membuat banyak, seperti dalam QS. Al-A’raf:4
13.
Untuk
membuat sama, yaitu: suatu pertanyaan yang masuk kepada sebuah kalimat yang
dapat digantikan dengan mashdar, seperti Firman Allah Subhanahu wa
Ta’ala dalam QS. Al-Baqarah:6
14.
Untuk
memerintahkan, seperti dalam QS. Ali Imran:20
15.
Untuk
memberi peringatan, seperti dalam QS. Al-Furqan:45
16.
Untuk
menumbuhkan kecintaan, seperti dalam QS. Al-Baqarah:245
17.
Untuk
larangan, seperti dalam Qs. At-Taubah:13
18.
Untuk
do’a. dan ini seperti larangan, tetapi do’a itu (bertingkat-tingkat) dari yang
lebih rendah kepada yang lebih tinggi, seperti dalam QS. Al-A’raf:155
D. Kesimpulan
Istifham dalam al Qur’an memiliki adawat (adat-adat)
sebagai ciri khas yang membedakannya dengan kaidah lain. Yaitu ditandai dengan
huruf hamzah, lafal hal, ma, man, kaifa, mata, ayyana, anna, kam, aina, ayyu.
Adapun makna dari ungkapan istifham bisa bermacam-macam bergantung pada siyaqul
kalamnya. Sedangkan tujuan dari kaidah istifham dalam ilmu tafsir
adalah untuk memberikan pengertian kepada para pendengar dan memiliki
pengetahuan untuk menafikan atau menetapkan suatu ayat Al-Qur’an.
DAFTAR PUSTAKA
[1] Muhammad Chirzin, Al Qur’an dan
Ulumul Qur’an (Yogyakarta: PT Dana Bhakti Prima Yasa, 1998), hlm. 177.
[2] Muhammad Chirzin, Al Qur’an dan
Ulumul Qur’an, hlm. 177.
[3] Rahimah, Ilmu
Balaghah Sebagai Cabang Ilmu Bahasa Arab (Sumatera Utara: USU digital
library, 2004), hlm. 13.
[4] Muhammad
Chirzin, Al Qur’an dan Ulumul Qur’an, hlm. 181-182.
Komentar
Posting Komentar