Mengenal Karakteristik Peserta Didik
Mengenal
Karakteristik Peserta Didik
Pembahasan tentang dunia pendidikan selalu
terkait dengan komponen yang melekat di dalamnya, seperti kurikulum,
pendidik, dan peserta didik. Ketiga komponen tersebut saling terkait satu
dengan yang lain dalam membentuk sebuah proses pembelajaran yang efektif.
Sebagai seorang pendidik, tugas kita tidak hanya wajib menguasai kurikulum dan
tugas-tugas kependidikan tetapi hendaknya mengenali peserta didik atau anak
didik kita terlebih karakteristik mereka. Karakteristik peserta didik yang
perlu dikenal dan dipahami oleh para pendidik tidak hanya terbatas pada tipe
kepribadian mereka saja, tetapi juga melingkupi kebutuhan belajar,
kemampuan mereka dalam belajar, potensi yang dimiliki, dan lingkungan yang ada
di sekitar mereka.
Faktor-faktor ini secara tidak langsung membantu
atau menghambat para peserta didik dalam menerima dan memproses informasi yang
diterima dari pendidiknya. Dengan mengetahui faktor-faktor di atas, para
pendidik dapat mengembangkan hal-hal positif yang ada di dalam diri peserta
didik dan mengurangi/meminimalisi hal-hal yang negatif yang dapat
menghambat kompetensi yang ada di dalam dirinya. Selain itu, pendidik
juga dapat mengenali karakter dan potensi yang ada di dalam dirinya sendiri.
` Salah satu upaya yang
perlu dilakukan oleh para pendidik untuk menjadikan dirinya sebagai
pendidik yang profesional adalah selalu meningkatkan kompetensinya, baik
kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional, maupun
kompetensi sosial. Di dalam kompetensi pedagogik, seorang pendidik wajib: 1)
mengenali karakteristik dan potensi peserta didik, 2) menguasai teori belajar
dan prinsip-prinsip pembelajaran yang efektif, 3) menguasai perencanaan dan
zengembangan kurikulum, 4) menguasai langkah-langkah pembelajaran yang efektif,
dan 5) menguasai sistem, mekanisme, dan prosedur penilaian. Di sini terlihat
jelas bahwasanya mengenali karakteristik dan potensi peserta didik
merupakan komponen pertama dalam kompetensi pedagogik, tetapi seringkali
terlupakan oleh seorang pendidik. Memang tidak mudah untuk mengenali karakter
dan potensi pada setiap peserta didik, tapi hal ini sangatlah mungkin.
1.
Karakteristik Peserta
Didik
Istilah karakter membuat banyak orang menyamakannya dengan kata sifat,
watak, akhlak, atau tabiat. Kenyataannya tak selalu bisa dimaknai seperti itu.
Kita perlu mempelajari pengertian karakter menurut para ahli agar memahami
perbedaannya. Menurut Doni Kusuma, karakter adalah ciri, karakteristik,
gaya, atau sifat diri dari seseorang yang bersumber dari bentukan yang diterima
dari lingkungannya. Berdasarkan pendapat tersebut karakter peserta didik
turut dibentuk dan dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya. Tadkiroatun
Musfiroh (2008: 25), mengatakan karakter mengacu kepada serangkaian
sikap (attitudes), perilaku (behaviors), motivasi (motivations), dan
keterampilan (skills). Dari pendapat para ahli tersebut dapat kita
simpulkan bahwa karakter adalah ciri, sifat diri, akhlak atau budi pekerti,
kepribadian dari seseorang yang dalam hal ini adalah peserta didik.
Iklan
LAPORKAN
IKLAN INI
Sebagai seorang pendidik tentunya tidak hanya bertugas mengajar di
kelas saja, akan tetapi mendidik dan juga melatih. Hal ini sangatlah tepat
apabila dikaitkan dengan pembentukan karakter yang baik bagi para peserta
didik. Seperti apa seorang pendidik mendidik, bagaimana mengajar, dan bagaimana
melatih para peserta didik. Semua tantangan di atas berawal dari pendidik itu
sendiri, bagaimana menciptakan pembelajaran yang menyenangkan, misalnya
dengan memunculkan kesan pertama pendidik yang positif saat kegiatan
belajar di kelas. Pendidik sangat perlu memahami perkembangan peserta
didik. Perkembangan peserta didik tersebut meliputi: perkembangan fisik,
perkembangan sosio-emosional, dan bermuara pada perkembangan intelektual.
Perkembangan fisik dan perkembangan sosio-sosial mempunyai kontribusi yang kuat
terhadap perkembangan intelektual atau perkembangan mental atau
perkembangan kognitifnya. Pemahaman terhadap perkembangan peserta didik di
atas, sangat diperlukan untuk merancang pembelajaran yang kondusif yang
akan dilaksanakan.
Rancangan pembelajaran yang kondusif akan mampu meningkatkan motivasi
belajar peserta didik sehingga mampu meningkatkan proses dan hasil pembelajaran
yang diinginkan. Seorang pendidik mempunyai peran multifungsi, sebagai
konselor, dia mendidik dan membimbing peserta didiknya dengan benar, memotivasi
dan memberi sugesti yang positif, serta memberikan solusi yang tepat dan tuntas
dalam menyelesaikan masalah peserta didik. Selain itu juga memperhatikan
karakter dan kondisi kejiwaan peserta didiknya. Pendidik juga bisa
berperan sebagai seorang dokter yang memberikan terapi dan obat pada pasiennya
sesuai dengan diagnosanya.
Perannya sebagai seorang ulama, pendidik membimbing dan menuntun
batin atau kejiwaan peserta didik, memberikan pencerahan yang menyejukkan dan
menyelesaikan masalahnya dengan pendekatan agama yang hasilnya akan lebih baik.
Mengenal dan memahami peserta didik dapat dilakukan dengan cara memperhatikan
dan menganalisa tutur kata (cara bicara), sikap dan perilaku atau perbuatan
anak didk, karena dari tiga aspek diatas setiap peserta didik mengekspresikan
apa yang ada dalam dirinya. Untuk itu seorang pendidik harus secara seksama
dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan peserta didik dalam setiap
aktivitas pendidikan.
1.1 Perkembangan Fisik Peserta Didik
Di dalam Kurikulum 2013 pola pembelajaran berpusat pada peserta
didik. Peserta didik memiliki pilihan-pilihan terhadap materi
yang akan dipelajari dan gaya belajarnya (learning style) untuk memiliki
kompetensi yang diharapkan oleh Kurikulum 2013. Oleh sebab itu, Anda
harus mengenal karakteristik setiap peserta didik di dalam proses
pembelajaran, agar tujuan pembelajaran dapat tercapai. Hal pertama yang
harus Anda ketahui adalah mengenal karakter peserta didik yang berkaitan dengan
aspek perkembangan fisik peserta didik. Seperti kita ketahui fisik peserta
didik mengalami perkembangan yang signifikan pada saat mereka menginjak remaja
atau pada saat mereka di sekolah menengah. Pada dasarnya
perkembangan merujuk kepada perubahan sistematis tentang fungsi-fungsi fisik
dan psikis. Perubahan fisik meliputi perkembangan biologis dasar sebagai hasil
dari konsepsi, dan hasil dari interaksi proses biologis dan genetika dengan
lingkungan. Sementara perubahan psikis menyangkut keseluruhan karakteristik
psikologis individu, seperti perkembangan kognitif, emosi, sosial, dan moral.
Perkembangan fisik atau pertumbuhan biologis (biological growth) merupakan
salah satu aspek penting dari perkembangan individu. Pertumbuhan fisik adalah
perubahan-perubahan fisik yang terjadi dan merupakan gejala primer dalam
pertumbuhan remaja. Fisik atau tubuh manusia merupakan sistem organ yang
kompleks dan sangat mengagumkan. Semua organ ini terbentuk pada periode
pranatal (dalam kandungan).
Berkaitan dengan perkembangan fisik ini Kuhlen dan Thompson mengemukakan
bahwa perkembangan fisik individu meliputi empat aspek, yaitu: Sistem syaraf,
yang sangat mempengaruhi perkembangan kecerdasan dan emosi;
(a) Otot-otot, yang mempengaruhi perkembangan kekuatan dan
kemampuan motorik;
(b) Sistem syaraf yang sangat memengaruhi perkembangan kecerdasan dan
emosi;
(c) Kelenjar Endokrin, yang menyebabkan munculnya pola-pola tingkah
laku baru, seperti pada usia remaja berkembang perasaan senang untuk aktif dalam
suatu kegiatan, yang sebagian anggotanya terdiri atas lawan jenis;
(d) Struktur fisik/tubuh, yang meliputi tinggi, berat, dan proporsi.
Seifert dan Hoffnung (1994) berpendapat perkembangan fisik meliputi
perubahan-perubahan dalam tubuh (seperti : pertumbuhan otak, sistem saraf,
organ-organ indrawi, pertambahan tinggi dan berat, hormon, dan lain-lain), dan
perubahan-perubahan dalam cara individu dalam menggunakan tubuhnya (seperti
perkembangan keterampilan motorik dan perkembangan seksual), serta perubahan
dalam kemampuan fisik (seperti penurunan fungsi jantung, penglihatan, dan
sebagainya).
Berdasarkan pendapat di atas, jelaslah bahwa perkembangan fisik
setiap peserta didik dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti telah dijelaskan
di atas. Oleh sebab itu Anda sebagai pendidik harus mengenali
karakteristik perkembangan peserta didik dari segi fisik, agar Anda bisa lebih
memahami situasi pembelajaran di dalam kelas dan apabila ada situasi yang tidak
Anda harapkan suatu saat terjadi, maka Anda akan lebih memahami situasi
tersebut. Kalau Anda bisa memahami kejadian tersebut, maka Anda pun diharapkan
akan bisa mencari solusinya dan kalau situasi sudah dapat dikuasai maka proses
pembelajaran diharapkan akan lebih lancar dan tujuan akan tercapai.
1.2 Perkembangan Kognitif Peserta didik
Proses pembelajaran setiap peserta didik berlangsung baik di sekolah maupun
dalam lingkungan keluarga. Sehingga kemampuan kognitif sangat diperlukan
peserta didik dalam proses pembelajaran tersebut. Perkembangan kognitif merupakan
salah satu aspek yang sangat penting dalam erkembangan peserta didik.
Kita ketahui bahwa peserta didik merupakan objek yang berkaitan langsung dengan
proses pembelajaran, sehingga perkembangan kognitif sangat menentukan
keberhasilan peserta didik dalam belajar. Kognitif atau pemikiran adalah
istilah yang digunakan oleh ahli psikologi untuk menjelaskan semua aktivitas
mental yang berhubungan dengan persepsi, pikiran, ingatan dan Pengolahan
informasi yang memungkinkan seseorang memperoleh pengetahuan, memecahkan
masalah, dan merencanakan masa depan, atau semua proses psikologis yang
berkaitan bagaimana individu mempelajari, memperhatikan, mengamati,
membayangkan, memperkirakan, menilai dan memikirkan lingkungannya. (Desmita,
2009).
Perkembangan kognitif pada peserta didik merupakan suatu pembahasan yang
cukup penting bagi guru maupun orang tua. Perkembangan kognitif pada anak
merupakan kemampuan anak untuk berpikir lebih kompleks serta kemampuan
melakukan penalaran dan pemecahan masalah yang termasuk dalam
proses psikologis yang berkaitan dengan bagaimana individu
mempelajari dan memikirkan lingkungannya. Karakteristik perkembangan kognitif
peserta didik juga harus dapat dipahami semua pihak. Dengan pemahaman pada
karakteristik perkembangan peserta didik, guru dan orang tua dapat mengetahui
sebatas apa perkembangan yang dimiliki anak didiknya sesuai dengan usia mereka
masing-masing, sehingga guru dan orang tua dapat menerapkan ilmu yang sesuai
dengan kemampuan kognitif masing-masing anak didik.
Tidak kalah penting, guru juga harus mengetahui tentang faktor-faktor yang
mempengaruhi peserta didik. Yang sangat sentral dalam faktor-faktor yang
mempengaruhi perkembangan kognitif adalah gaya pengasuhan dan
lingkungan. Biasanya gaya pengasuhan lebih diterapkan pada anak-anak. Pada
pengasuhan ini merupakan cikal-bakal perkembangan kognitif tersebut, karena
ketika anak diasuh secara tidak sesuai dengan semestinya, ini akan
berakibat pada perkembangan kognitif anak, bahkan pada perkembangan mental anak
tersebut. Lingkungan pun sangat berpengaruh pada perkembangan kognitif, semakin
buruk lingkungan maupun pergaulan seseorang maka kemungkinan pengaruh
lingkungan pada perkembangan kognitif anak semakin besar.
Dari uraian di atas jelaslah bahwa perkembangan kognitif peserta
didik sangat berpengaruh terhadap proses pembelajaran dan hasil yang
dicapai.
1.3 Perkembangan Sosial-emosional Peserta didik
Selain perkembangan karakteristik fisik dan kognitif peserta didik, yang
tidak kalah penting adalah perkembangan sosial-emosional peserta didik.
Sosio-emosional berasal dari kata sosial dan emosi. Perkembangan sosial
adalah pencapaian kematangan dalam hubungan atau interaksi sosial. Dapat
juga diartikan sebagai proses belajar untuk menyesuaikan diri dengan
norma-norma kelompok, tradisi dan moral agama. Sedangkan emosi merupakan faktor
dominan yang mempengaruhi tingkah laku individu, dalam hal ini termasuk pula
perilaku belajar. Emosi dibedakan menjadi dua, yakni emosi positif dan emosi
negatif. Emosi positif seperti perasaan senang, bergairah, bersemangat, atau
rasa ingin tahu yang tinggi akan mempengaruhi individu untuk mengonsentrasikan
dirinya terhadap aktivitas belajar. Emosi negatif sperti perasaan tidak senang,
kecewa, tidak bergairah, individu tidak dapat memusatkan perhatiannya untuk
belajar, sehingga kemungkinan besar dia akan mengalami kegagalan dalam
belajarnya. Selain itu, dari segi etimologi, emosi berasal dari akar kata
bahasa Latin ‘movere’ yang berarti ‘menggerakkan, bergerak’. Kemudian
ditambah dengan awalan ‘e-‘ untuk memberi arti ‘bergerak menjauh’. Makna ini
menyiratkan kesan bahwa kecenderungan bertindak merupakan hal mutlak dalam
emosi.
Perkembangan sosio-emosional peserta didik termasuk suatu pembahasan yang
sangat penting karena dengan mengetahui perkembangan sosio-emosional peserta
didik, para pendidik dapat mengambil tindakan pada permasalahan peserta didik
dengan berbagai karakteristik dan sifat yang berbeda-beda. Sosio-emosional
adalah perubahan yang terjadi pada diri setiap individu dalam warna afektif
yang menyertai setiap keadaan atau perilaku individu. Dalam pembahasan
sosio-emosional ini lebih ditekankan dalam sosio-emosional pada
remaja. Pada masa remaja, tingkat karakteristik emosional akan
menjadi drastis tingkat kecepatannya. Gejala-gejala emosional para remaja
seperti perasaan sayang, cinta dan benci, harapan-harapan dan putus asa, perlu
dicermati dan dipahami dengan baik. Sebagai pendidik. kita harus
mengetahui setiap aspek yang berhubungan dengan perubahan tingkah laku
dalam perkembangan remaja, serta memahami aspek atau gejala tersebut sehingga
kita bisa melakukan komunikasi yang baik dengan remaja. Perkembangan emosi
remaja merupakan suatu titik yang mengarah pada proses dalam mencapai
kedewasaan. Meskipun sikap kanak-kanak akan sulit dilepaskan pada diri remaja
karena pengaruh didikan orang tua.
Faktor yang sangat memengaruhi perkembangan peserta didik pada usia remaja
yaitu didikan orang tua, lingkungan sekitar tempat tinggal dan perlakuan guru
di sekolah. Pengaruh sosio-emosional yang baik pada remaja terhadap diri
sendiri yaitu untuk mengendalikan diri, memutuskan segala sesuatu dengan baik,
serta bisa lebih matang merencanakan segala hal yang akan diputuskannya,
sedangkan terhadap orang lain, yaitu mampu menjalin kerjasama yang baik, saling
menghargai dan mampu memposisikan diri di lingkungan dengan baik.
Agar seorang peserta didik dapat memiliki kecerdasan emosi dengan baik
haruslah dibentuk sejak usia dini, karena pada saat itu sangat menentukan
pertumbuhan dan perkembangan manusia selanjutnya. Sebab pada usia ini
dasar-dasar kepribadian anak telah terbentuk. Jelaslah sudah betapa pentingnya
seorang pendidik memahami perkembangan sosio-emosional peserta didik, agar
dalam proses pembelajaran perkembangan sosio-emosional peserta didik yang
berbeda-beda dapat diatasi dengan baik.
1.4 Perkembangan Moral dan Spritual Peserta Didik
Perkembangan moral dan spiritual peserta didik adalah dua hal yang tidak
dapat dipisahkan dari kehidupan kita semua. Demikian pula dalam proses
pendidikan peserta didik baik itu di sekolah maupun di rumah. Teori Kohlberg
telah menekankan bahwa perkembangan moral didasarkan terutama pada penalaran
moral dan berkembang secara bertahap yaitu: Penalaran prakovensional,
konvensional, dan pascakonvensional.
Tingkat Satu : Penalaran Prakonvesional
Penalaran prakonvensional adalah tingkat yang paling rendah dalam teori
perkembangan moral Kohlberg. Pada tingkat ini, anak tidak
memperlihatkan internalisasi nilai-nilai moral, penalaran moral dikendalikan
oleh imbalan (hadiah) dan hukuman ekternal.
Tingkat Dua: Penalaran Konvensional
Penalaran konvensional adalah tingkat kedua atau tingkat menengah dari
teori perkembangan moral Kohlberg. Internalisasi individu pada tahap ini adalah
menengah. Seorang mentaati standar-standar (internal) tertentu, tetapi mereka
tidak mentaati standar-standar (internal) orang lain, seperti orangtua atau
masyarakat.
Tahap Tiga: Penalaran Pascakonvensional
Penalaran pascakonvensional adalah tingkat tertinggi dari teori
perkembangan moral Kohlberg. Pada tingkat ini, moralitas benar-benar
diinternalisasikan dan tidak didasarkan pada standar-standar orang lain.
Seorang mengenal tindakan moral alternatif, menjajaki pilihan-pilihan, dan
kemudian memutuskan berdasarkan suatu kode moral pribadi. Spiritual
berasal dari bahasa latin “spiritus” yang berarti nafas atau udara, spirit
memberikan hidup, menjiwai seseorang. Spiritual meliputi komunikasi dengan
Tuhan (fox 1983), dan upaya seseorang untuk bersatu dengan Tuhan (Magill dan Mc
Greal 1988), spiritualitas didefinisikan sebagai suatu kepercayaan akan adanya
suatu kekuatan atau suatu yang lebih agung dari dirisendiri (Witmer 1989).
Karakteristik spiritual yang utama meliputi perasaan dari keseluruhan dan
keselarasan dalam diri seorang, dengan orang lain, dan dengan Tuhan atau
kekuatan tertinggi sebagai satu penetapan. Orang-orang, menurut tingkat
perkembangan mereka, pengalaman, memperhitungkan keamanan individu, tanda-tanda
kekuatan, dan perasaan dari harapan. Hal itu tidak berarti bahwa individu
adalah puas secara total dengan hidup atau jawaban yang mereka miliki. Seperti
setiap hidup individu berkembang secara normal, timbul situasi yang
menyebabkan kecemasan, tidak berdaya, atau kepusingan. Karakteristik kebutuhan
spiritual meliputi:
1.
Kepercayaan
2.
Pemaafan
3.
Cinta dan
hubungan
4.
Keyakinan,
kreativitas dan harapan
5.
Maksud dan
tujuan serta anugrah dan harapan.
Karakteristik dari kebutuhan spiritual ini menjadi dasar dalam
menentukan karakteristik dari perubahan fungsi spiritual yang akan mengarahkan
individu dalam berperilaku, baik itu kearah perilaku yang adaptif maupun
perilaku yang maladaptif.
1.5 Latar Belakang Sosial Budaya Peserta
Didik
Sosial adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan masyarakat atau kemasyarakatan,
sementara budaya segala hal yang dibuat oleh manusia berdasarkan pikiran
dan akal budinya yang mengandung cinta, rasa, dan karsa. Jadi dapat disimpulkan
dari segi istilah sosal budaya merupakan segala hal yang diciptakan oleh manusia
dengan pikiran dan budinya dalam kehidupan bermasyarakat. Unsur-unsur
sosial budaya peserta didik meliputi antara lain bahasa, kesenian,
sistem religi, sistem kemasyarakatan dan sistem ekonomi. Kehidupan dan nilai
sosial budaya peserta didik dalam kehidupannya selalu mendapatkan dan
dipengaruhi oleh nilai nilai sosio-budaya dari lingkungan sekitarnya mulai dari
keluarga, sekolah, dan masyarakat sekitar.
2.
Potensi Peserta Didik
potensi adalah kesanggupan, daya, kemampuan individu untuk lebih
berkembang. Setiap individu memiliki potensi yang berbeda satu sama
lainnya. Potensi peserta didik yang dimaksud adalah kemampuan yang mungkin
dikembangkan atau menunjang potensi lain. Potensi ini meliputi
potensi fisik, intelektual, kepribadian, minat, potensi moral, dan religius.
Potensi fisik merupakan kondisi kesehatan fisik dan berfungsinya anggota
tubuh dengan baik yang diperoleh dari pemeriksaan oleh tenaga
medis, observasi perilaku, wawancara, dan pengisian angket akan
menunjang kelancaran peserta didik melakukan aktivitas belajar dan
memaksimalkan keberhasilan peserta didik dalam belajar. Organ tubuh akan
berfungsi dengan baik dan maksimal apabila kondisi kesehatan peserta didik juga
baik.
Herry Wibowo (2007:19) menyatakan bahwa potensi yang
terbesar manusia adalah otak. Otak adalah pengatur seluruh fungsi tubuh,
dan juga sebagai pusat yang mengendalikan perilaku individu. Adapun potensi
intelektul atau kekuatan otak individu berkaitan dengan daya nalar dan logika
yang berupa kemampuan untuk mempelajari keterampilan, menganalisa, dan lain
lain Faktor-faktor yang memengaruhi potensi intelektual individu
adalah faktor internal, misalnya motivasi,
kemauan, kemampuan dan faktor eksternal, misalnya sarana dan daya
dukung penunjang. Kedua faktor ini sangat memberikan pengaruh
pada pencapaian kemampuan intelektual yang maksimal dari peserta didik. Faktor
internal peserta didik yang dominan memberikan kecenderungan kekuatan
daya juang yang besar saat menghadapi kesulitan dalam proses belajar. Gordon
Allport (2005:23) mendeskripsikan kepribadian sebagai suatu organisasi
dinamis dari sistem psiko-fisik dalam berinteraksi dan menyesuaikan diri dengan
lingkungan dengan cara yang unik. Aspek-aspek sikap kepribadian
diantaranya mencakup karakter, temperamen, sikap, stabilitas emosi,
responsibilitas, dan sosiabilitas. Berdasarkan pandangan
psikologi, sikap mengandung unsur penilaian dan reaksi afektif, sehingga
menghasilkan motif. Jalaluddin (1996:187) menyatakan sikap terbentuk
melalui hasil belajar dari interaksi dan pengalaman seseorang dan bukan faktor
bawaan.
Minat didefinisikan sebagai suatu perangkat mental yang terdiri dari suatu
campuran dari perasaan, harapan, pendirian, prasangka, rasa takut atau
kecenderungan lain yang mengarahkan individu kepada suatu pilihan tertentu.
Minat peserta didik dapat mempengaruhi sikap dan perilakunya dalam
menerima pembelajaran. Bakat menurut Slavin didefinisikan sebagai
kemampuan umum yang dimiliki seorang peserta didik untuk belajar. Oleh karena
itu bakat mempengaruhi keberhasilan individu mencapai sesuatu. Ahli
psikologi lainnya mengatakan bakat adalah kemampuan dasar untuk melakukan suatu
tugas tanpa upaya pendidikan atau pelatihan.
Moral merupakan ajaran baik buruk yang diterima umum mengenai
perbuatan, sikap, kewajiban, dan sebagainya. Adapun keagamaan peserta didik
berkaitan dengan konsep ketuhanan yang dianutnya. Moral dan keagamaan
individu memberikan pengaruh pada pembentukan nilai dan keyakinan yang
dianutnya. Peserta didik yang memiliki keyakinan akan nilai-nilai kebenaran,
kearifan, dan saling menghargai akan berdampak pada proses dan hasil pencapaian
potensi peserta didik.
2.1. Faktor- faktor yang memengaruhi
potensi peserta didik
1.
Faktor
Fisik
Setiap individu mempunyai ciri dan sifat atau karakteristik bawaan
(heredity) dan karakteristik yang diperoleh dari pengaruh lingkungan.
karakteristik bawaan merupakan karakteristik keturunan yang dimiliki
sejak lahir, baik yang menyangkut faktor biologis maupun faktor sosial
psikologis. Hal tersebut merupakan dua faktor yang terbentuk karena faktor yang
terpisah, masing-masing mempengaruhi kepribadian dan kemampuan individu bawaan
dan lingkungan dengan caranya sendiri-sendiri. Natur dan nurture
merupakan istilah yang biasa digunakan untuk menjelaskan karakteristik-karakteristik
individu dalam hal fisik, mental, dan emosional pada setiap tingkat
perkembangan.
Karakteristik yang berkaitan dengan perkembangan faktor biologis cenderung
lebih bersifat tetap, sedangkan karakteristik yang berkaitan dengan sosial psikologis
lebih banyak dipengaruhi oleh faktor lingkungan.
1.
Faktor Psikologis
Faktor psikologis berkaitan dengan hal kejiwaan, kapasitas mental, emosi,
dan intelegensi individu. Kemampuan berpikir peserta didik memberikan
pengaruh pada hal memecahkan masalah dan juga berbahasa. Hal lain
yang berkaitan dengan aspek psikologi peserta didik adalah: Motivasi
Intrinsik. Menurut Arden N. F (Hayinah, 1992) motivasi Intrinsik
meliputi: dorongan ingin tahu; sifat positif dan kreatif;
keinginan mencapai prestasi; dan kebutuhan untuk menguasai ilmu dan
pengetahuan yang berguna bagi dirinya. Sedangkan motivasi ekstrinsik
adalah faktor yang datang dari luar individu tetapi memberi pengaruh terhadap
kemauan belajar peserta didik.
2.2. Faktor eksternal yang memengaruhi
potensi peserta didik
1.
Lingkungan
Sosial Masyarakat
Lingkungan sosial individu adalah lingkungan di mana seorang
individu berinteraksi dengan individu lainnya dalam suatu ikatan norma dan
peraturan. Kondisi lingkungan yang sehat dan mendukung secara positif terhadap
proses belajar peserta didik akan memberikan pengaruh yang positif pada
perkembangan potensi peserta didik. Lingkungan masyarakat yang kumuh, dan tidak
mendukung secara positif seperti banyaknya pengangguran, dan anak terlantar
akan memberikan pengaruh negatif pada aktivitas dan potensi peserta didik.
1.
Lingkungan Sosial keluarga
Keluarga adalah lingkungan sosial terkecil pada peserta didik. Peran
keluarga dalam menunjang potensi peserta didik sangat penting. Hal-hal seperti
kedekatan dengan orang tua, dukungan, dan hubungan dengan anggota keluarga yang
harmonis akan memberikan dampak pada perkembangan potensi peserta didik.
1.
Lingkungan sekolah
Lingkungan sekolah, seperti teman sekelas, guru, dan staf administrasi
dapat memberikan pengaruh terhadap proses belajar peserta didik. Hubungan
baik dan harmonis diantara ketiganya memberikan pengaruh pada proses
belajar. Memberikan motivasi yang positif dan kesempatan pada peserta
didik untuk belajar dan berkembang akan sangat berpengaruh pada pencapaian
potensinya. Guru harus dapat mengamati dengan baik karakteristik dari peserta
didik.
1.
Perbedaan ras, suku, budaya,
kelas sosial peserta didik Sekolah adalah wadah bagi seluruh peserta didik
untuk mengembangkan potensinya tanpa memandang perbedaan. Memahami perbedaan
karakteristik peserta didik adalah merupakan tantangan besar bagi pendidik
dalam menunjang perkembangan potensi peserta didik. Bagaimana menciptakan
kondisi kelas yang mendukung aktivitas belajar yang dapat mewadahi seluruh
peserta didik merupakan salah satu peran penting dari pendidik. Perbedaan ras
dan etnik akan memunculkan perbedaan dialek bahasa, nilai, dan keyakinan yang
kesemuanya itu akan sangat membawa pengaruh dalam proses pengembangan potensi
peserta didik. Pendidik harus peka dan memiliki sikap positif terhadap
perbedaan karakteristik peserta didiknya. Mc. Graw Hill dalam bukunya Learning
to Teach (2009) menyatakan bahwa ketika penggunaan dialek bahasa keluarga
yang dipakai oleh peserta didik di Amerika dipaksa untuk dihapuskan, maka
kecenderungan prestasi akademik siswa tidak mengalami peningkatan, justru
memunculkan kondisi emosional yang negatif pada mereka. Pendidik sebaiknya
senantiasa mampu memunculkan kondisi emosi positif pada peserta didik dengan
segala keberagaman karakteristik mereka.
3.
Bekal
Awal Peserta Didik
Setiap peserta didik dapat dipastikan memiliki perilaku dan karakteristik
yang cenderung berbeda. Dalam pembelajaran, kondisi ini penting untuk
diperhatikan karena dengan mengidentifikasi kondisi awal peserta didik saat
akan mengikuti pembelajaran dapat memberikan informasi penting untuk guru dalam
pemilihan strategi pengelolaan, yang berkaitan dengan bagaimana menata
pembelajaran, khususnya komponen-komponen strategi pengajaran yang efektif dan
sesuai dengan karakteristik perseorangan peserta didik sehingga pembelajaran akan
lebih bermakna. Kegiatan menganalisis peserta didik dalam pengembangan
pembelajaran merupakan pendekatan yang menerima peserta didik apa adanya. Hal
ini dilakukan untuk menyusun sistem pembelajaran atas dasar keadaan peserta
didik tersebut. Dengan demikian, mengidentifikasi kemampuan awal peserta
didik adalah bertujuan untuk menentukan apa yang harus diajarkan tidak perlu
diajarkan dalam pembelajaran yang akan dilaksanakan. Karena itu, kegiatan ini
sama sekali bukan untuk menentukan prasyarat dalam menyeleksi peserta didik
sebelum mengikuti pembelajaran.
3.1 Pengertian Bekal Ajar Awal Peserta
Didik
Peserta didik menurut Sudarwan Danim (2010:47) merupakan sumber
daya utama dan terpenting dalam proses pendidikan. Peserta didik bisa
belajar tanpa guru. Sebaliknya, guru tidak bisa mengajar tanpa peserta
didik. Karenanya kehadiran peserta didik menjadi keniscayaan dalam proses
pendidikan formal atau pendidikan yang dilambangkan dengan menuntut interaksi
antara pendidik dan peserta didik. Bekal ajar awal peserta didik dapat
pula diartikan kemampuan awal (entry behavior) adalah kemampuan yang yang telah
diperoleh peserta didik sebelum dia memperoleh kemampuan terminal tertentu yang
baru. Kemampuan awal menunjukkan status pengetahuan dan keterampilan peserta didik
sekarang untuk menuju ke status yang akan datang yang diinginkan guru agar
tercapai oleh peserta didik. Dengan kemampuan ini dapat ditentukan darimana
pengajaran harus dimulai.
Esensinya tidak ada peserta didik di muka bumi ini benar-benar sama. Hal ini
bermakna bahwa masing-masing peserta didik memiliki karakteristik tersendiri.
Karakteristik peserta didik adalah totalitas kemampuan dan perilaku yang ada
pada pribadi mereka sebagai hasil dari interaksi antara pembawaan dengan
lingkungan sosialnya, sehingga menentukan pola aktivitasnya dalam mewujudkan
harapan dan meraih cita-cita.
3.2. Tujuan mengidentifikasi bekal ajar awal peserta didik
Identifikasi bekal ajar awal peserta didik bertujuan untuk:
1.
Memperoleh informasi
yang lengkap dan akurat berkenaan dengan kemampuan awal
peserta didik sebelum mengikuti program pembelajaran tertentu;
2.
Menyeleksi tuntutan,
bakat, minat, kemampuan serta kecendrungan peserrta didik berkaitan dengan
pemilihan program program pembelajaran tertentu yang akan diikuti mereka; dan
3.
Menentukan
desain program pembelajaran dan atau pelatihan tertentu yang perlu
dikembangkan sesuai dengan kemampuan awal peserta didik.
Teknik mengaktifkan bekal ajar awal peserta didik digunakan
untuk mengetahui kemampuan awal peserta didik. Seorang pendidik dapat
melakukan tes awal (pre-test). Tes yang diberikan dapat berkaitan dengan
materi ajar sesuai dengan panduan kurikulum. Selain itu pendidik dapat
melakukan wawancara, observasi, dan memberikan kuisioner kepada peserta
didik atau calon peserta didik, serta guru yang biasa mengampu pelajaran
tersebut.
Teknik yang paling tepat untuk mengetahui bekal ajar awal peserta didik
yaitu tes. Teknik tes ini menggunakan tes prasyarat dan tes awal. Sebelum
memasuki pelajaran sebaiknya guru membuat tes prasyarat dan tes awal. Tes
prasyarat adalah tes untuk mengetahui apakah peserta didik telah memiliki
pengetahuan keterampilan yang diperlukan atau di syaratkan untuk mengikuti
suatu pelajaran. Sedangkan tes awal adalah tes untuk mengetahui
seberapa jauh siswa telah memiliki pengetahuan atau keterampilan mengenai pelajaran
yang hendak diikuti. Benjamin S. Bloom melalui beberapa eksperimen membuktikan
bahwa “untuk belajar yang bersifat kognitif apabila pengetahuan atau kecakapan
pra syarat ini tidak dipenuhi, maka betapa pun kualitas pembelajaran tinggi,
maka tidak akan menolong untuk memperoleh hasil belajar yang tinggi”. Hasil
pretest juga sangat berguna untuk mengetahui seberapa jauh pengetahuan yang
dimiliki dan sebagai perbandingan dengan hasil yang dicapai setelah
mengikuti pelajaran.
Jadi kemampuan awal sangat diperlukan untuk menunjang pemahaman siswa
sebelum diberi pengetahuan baru karena kedua hal tersebut saling
berhubungan.Contoh angket sederhana untuk mengetahui bekal ajar awal peserta
didik sebagai berikut:
Seberapa luas pengetahuanmu tentang native speaker:
1.
Saya belum pernah
mendengar istilah itu
2.
Saya pernah
mendengar tapi belum tahu tentang native speaker
3.
Saya hanya tahu
sedikit tentang native speaker
4.
Saya belum tahu
pengertian native speaker secara luas
4.
Kesulitan
Belajar Peserta Didik
4.1 Pengertian kesulitan belajar
Setiap individu tidak sama. Perbedaan individu ini menyebabkan perbedaan
tingkah laku belajar di kalangan peserta didik. Sehingga memunculkan perbedaan
kemampuan peserta didik dalam memahami materi pembelajaran di kelas yang sering
disebut sebagai kesulitan belajar. Hamalik (hal: 1983) menyatakan
kesulitan belajar dapat diartikan sebagai keadaan di mana peserta
didik tidak dapat belajar sebagaimana mestinya. Keadaan tersebut tidak bisa
diabaikan oleh seorang pendidik karena dapat menjadi penghambat tujuan
pembelajaran. Kesulitan belajar tidak hanya disebabkan oleh faktor
intelegensi yang rendah, akan tetapi bisa disebabkan oleh faktor-faktor
nonintelegensi. Oleh karena itu, IQ yang tinggi belum tentu menjamin
keberhasilan belajar. Wood (2007:33) menyatakan kesulitan belajar adalah
suatu kondisi dalam proses belajar yang ditandai oleh adanya hambatan-hambatan
tertentu untuk mencapai hasil belajar. Hambatan-hambatan tersebut diakibatkan
oleh faktor yang berasal dari dalam diri peserta didik maupun luar diri
peserta didik. Faktor-faktor penyebab tersebut, hendaklah dipahami oleh
pendidik agar setiap peserta didik dapat mencapai tujuan
belajar yang baik.
Peserta didik mempunyai hak yang sama untuk mencapai kinerja akademik
(academic performance) yang memuaskan. Namun kenyataannya pendidik kurang
memahami peserta didik yang memiliki perbedaan dalam hal kemampuan
intelektual, kemampuan fisik, latar belakang, kebiasaan dan pendekatan belajar
antara pesetrta didik satu dengan lainnya. Sementara itu, penyelenggaraan
pendidikan di sekolah-sekolah pada umumnya hanya ditunjukkan kepada para
peserta didik yang berkemampuan rata-rata, sehingga peserta didik yang
berkemampuan lebih atau yang berkemampuan kurang terabaikan. Peserta didik yang
berkategori di luar rata-rata itu (sangat pintar dan sangat rendah) tidak
mendapat kesempatan yang memadai untuk berkembang sesuai dengan kepasitasnya.
Kesulitan belajar (learning difficulty) yang tidak hanya dialami peserta didik
berkemampuan rendah saja, tetapi juga dialami oleh peserta didik yang
berkemampuan tinggi. Dari kedua pendapat tersebut dapat disimpulkan
kesulitan belajar adalah suatu hambatan yang dialami oleh peserta didik
untuk mencapai hasil belajar yang memuaskan.
Ciri-ciri kesulitan belajar menurut
Moh. Surya antara lain:
1.
Menunjukkan hasil
belajar yang rendah (di bawah rata-rata nilai yang dicapai oleh
kelompok kelas);
2.
Hasil yang
dicapai tidak seimbang dengan usaha yang dilakukan, mungkin murid yang selalu
errusaha dengan giat tetapi nilai yang dicapai selalu rendah;
3.
Lambat dalam
melakukan tugas-tugas kegiatan belajar, ia selalu tertinggal dari
kawan-kawannya dalam menyelesaikan tugas-tugas sesuai dengan waktu yang
tersedia;
4.
Menunjukkan
sikap-sikap yang kurang wajar, seperti acuh tak acuh, menentang, berpura-pura,
dusta, dsb;
5.
Menunjukkan tingkah
laku yang berkelainan, seperti membolos, datang terlambat, tidak
engerjakan pekerjaan rumah, menggangu didalam dan diluar kelas, tidak mau
mencatat pelajaran, mengsingkan diri, tersisih, tidak mau bekerja sama, dsb;
6.
Menunjukkan
gejala emosional yang kurang wajar, seperti pemurung, mudah tersinggung, mudah
pemarah, tidak gembira dalam menmghadapi situasi tertentu, misalnya dalam
menghadapi nilai rendah tidak menunjukkan sedih atau menyesal dsb. Pernyataan
tersebut, dapat dipahami adanya beberapa manifestasi dari gejala
kesulitan belajar yang dialami oleh para peserta didik.
Gejala-gejala yang termanifestasi dalam tingkah laku setiap peserta didik,
diharapkan para pendidik dapat memahami dan mengidentifikasikan mana siswa yang
mengalami kesulitan dalam belajar dan mana yang tidak.
4.2 Faktor-faktor kesulitan belajar
Di negara-negara berkembang seperti Indonesia, prevalensi anak dengan
kesulitan belajarnya diperkirakan lebih besar. Para ahli mengemukakan bahwa
penyebab kesulitan belajar itu kompleks dan luas. Secara umum, penyebab
kesulitan belajar antara lain:
1.
Faktor
intelektual, yaitu inteligensi yang rendah dan terbatas;
2.
Faktor kondisi
fisik dan kesehatan, termasuk kondisi kelainan, seperti kurangnya gizi pada ibu
hamil, bayi dan anak, kerusakan susunan dan fungsi otak, dan penyakit
persalinan;
3.
Faktor
sosial,seperti pengaruh teman bermain, pergaulan dan lingkungan sekitar;
4.
Faktor
keluarga, seperti keadaan keluarga yang kurangnya dukungan belajar dari orang
tua.
Berikut ini penjabaran faktor-faktor kesulitan belajar yang dialami oleh
peserta didik menurut Koestur Partowisastro dan Hadi Suprapto (1978:56)
yaitu:
1.
Kondisi
fisiologis yang permanen meliputi inteligensi yang terbatas, hambatan
penglihatan dan pendengaran, dan masalah persepsi.
2.
Kondisi
fisiologis temporer meliputi masalah makanan, kecenderungan, dan
kecapaian.
3.
Kondisi
lingkungan sosial permanen meliputi harapan dan tekanan orang tua tinggi
dan konflik dalam keluarga.
4.
Kondisi
lingkungan sosial temporer meliputi ada bagian-bagian dalam urutan yang
belum dipahami dan persaingan interes.
Sedangkan menurut Tidjan, faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya
kesulitan belajar yaitu interen dan ekstern. Faktor interen meliputi
faktor fisiologis, yaitu kesehatan fisik terganggu, cacat fisik dan
sebagainya. Faktor intelektual, misalnya kecerdasan kurang,
kecakapan kurang, bakat-bakat kurang. Faktor minat, tidak berminat atau kurang
minat. Faktor konsentrasi perhatian kurang. Faktor ingatan
kurang. Faktor emosi, misalnya rasa benci dan rasa tidak puas.
Faktor ekstern meliputi Faktor tempat, misalnya tidak ada
tempat khusus untuk belajar. Faktor alat, alat-alat yang diperlukan
dalam belajar kurang atau tidak ada. Faktor waktu dan suasana, yaitu tidak
dapat mengatur waktu belajar, ramai dan gaduh, rumah dekat jalan
yang cukup ramai. Faktor lingkungan sekolah, misalnya bahan pelajaran
kurang, metode guru mengajar tidak memuaskan, pengeruh teman yang tidak baik
(negatif). Faktor lingkungan keluarga dan masyarakat, misalnya situasi keluarga
yang tidak menguntungkan anak dalam belajar, begitu pula dengan masyarakatnya
PENUTUP
Dengan tuntasnya mempelajari materi dalam modul Guru Pembelajar
Bahasa Indonesia SMA Kelompok Kompetensi A ini, Anda
diharapkan tidak lagi mengalami kesulitan dalam mengembangkan
pembelajaran yang efektif dan bermakna di kelas.
Guru sepatutnya mendapatkan pemahaman terhadap
kompetensi pedagogik dan profesional dengan komposisi yang ideal merupakan
sesuatu yang sangat penting dan tidak bisa dilewatkan pada setiap pertemuan.
Materi yang dipaparkan dalam kegiatan pembelajaran ini diharapkan dapat
menambah wawasan Anda dalam menentukan karakteristik, potensi,
kesulitan belajar peserta didik serta dapat merancang
kegiatan yang dapat mengatasi kesulitan belajar peserta didik.
DAFTAR PUSTAKA
Aliran-aliran klasik dalam pendidikan dan
pengaruhnya terhadap pemikiran pendidikan di Indonesia. Diunduh dari http://www.peutuah.com/makalah-pendidikan/pada tanggal
1 Juni 2012
Djamarah, Syaiful Bahri. (2000). Guru dan Anak Didik dalam Interaksi
Edukatif. Jakarta: Rineka Cipta
Effendi, Mukhlison dan Siti Rodliyah. (2004).Ilmu Pendidikan.Ponorogo: PPS
Press
Fauzi, Ahmad. (2011). Analisis Karakteristik Siswa.
http://pengantarpendidikan.files.wordpress.com/2011/02/analisis-karakteristik-siswa.pdf pada tanggal 28 Mei 2012
Hamalik, Oemar. (2003). Proses Belajar Mengajar.Jakarta : Bumi Aksara.
Hernawati, Kuswari. (2011). E-Learning Adaptif
Berbasis Karakteristik Peserta Didik.http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/adaptif%20elearning.pdf
Hurlock, E. B. (1997). Perkembangan Anak Jilid 1. Terjemahan Tsandrasa,
M.M.
dan Zarkasih, M. Jakarta: Penerbit Erlangga
Hurlock, E. B. 1980. Psikolog Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang
rentang Kehidupan. Terjemahan Istiwidanti & Soedarjarwo, Jakarta: Erlangga
Mardiya.(2009). Peranan Orang Tua dalam
Pembentukan Karakter dan Tumbuh Kembang Anak.http://mardiya.wordpress.com/2009/10/25/peranan-orang-tua-dalam-pembentukan-karakter-dan-tumbuh-kembang-anak/
Muda, Aslam Syah. (2012). Pengaruh Pola Asuh
Terhadap Kepribadian Anak.http://edukasi.kompasiana.com/2012/09/06/pengaruh-pola-asuh-terhadap-kepribadian-anak/
Partanto, Pius A. dan M. Dahlan Al-Barry.(1994). Kamus Ilmiah
Populer.Surabaya : Arkola
Purwanto, Ngalim.(1990). Psikologi Pendidikan.Bandung: CV Remaja Karya
Santrock, J.W. (2002). Life Span Development, Perkembangan Masa Hidup
(Terjemahan). Jakarta: Erlangga
Semiawan, Cony. (2008). Perspektif Pendidikan Anak Berbakat. Jakarta: PT
Grasindo
Suhadianto.(2009). Pentingnya Mengenal Kepribadian Siswa Untuk Meningkatkan
Prestasi
Sukmadinata, Nana Syaodih. 2004. LAndasan Psikologi Proses Pendidikan.
Bandung : PT Remaja Rosdakarya
Syah, Muhibbin. Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru. (2008). PT
Remaja Rosdakarya Bandung
Sumarmo, Alim. Memahami 9 Tipe Kecerdasan
Jamak.Diunduh dari http://blog.elearning.unesa.ac.id/alim-sumarno/memahami-9-tipe-kecerdasan-jamak.pada tanggal 22 Juni 2012
Uno, Hamzah. B.(2008).Model Pembelajaran: Menciptakan Proses Belajar
Mengajar yang Kreatif dan Efektif . Jakarta: Bumi Aksara
Taimiyah, Ibnu (Syaikhul Islam). Iqtidha’ Ash Shiratil Mustaqim, Ta’liq:
Dr. Nashir bin ‘Abdul Karim Al ‘Aql.
Zainudin, Akbar. (2010). Gaya belajar dan
modalitas belajar siswa. Diunduh darihttp://ideguru.wordpress.com/2010/04/12/memahami-perbedaan-gaya-belajar-siswa/pada tanggal
31 Mei 2012
1.
http://www.smartpassiveincome.com/are-people-talking-about-you-online-heres-what-you-need-to-know/
2.
http://logodownload.blogspot.com/2012/11/logo-tamansiswa.html
3.
http://ranjihistoris2012.wordpress.com/2012/07/15/wisata-sejarah-di-ins-kayu-tanam/
4.
http://educ732.courseblock.com/module04/topic-4-2-gardner%E2%80%99s-multiple-intelligences-theory/
5.
http://guruqungeblog.files.wordpress.com/2011/02/siswa-aktif.jpg
Komentar
Posting Komentar