Resume Makalah bahasa arab 'adad dan ma'dud

 Resume Makalah Bahasa Arab 


'adad dan ma'dud


ADAD DAN MA’DUD

PEMBAHASAN

A.  Pengertian ‘Adad dan Ma’dud

Contoh : اشترى حامد فى الدكان خمسة اقلام و ثلاث مسطرات , artinya : Hamid belanja 5 pulpen dan 3 penggaris di toko. Kalimat tersebut mengandung ‘Adad ma’dud, yaitu : kata خمسة dan ثلاث  namanya : ‘Adad,  sedangkan kata اقلام dan مسطرات namanya ma’dud. Jadi  'Adad adalah sesuatu yang menunjukkan bilangan, satu, dua, tiga dan seterusnya. Sedangkan Ma'dud adalah yang menunjukkan “sesuatu”yang terhitung. Hal ini sebagaimana yang dikemukakan oleh Syauqi Dhaoyf , bahwa 'Adad adalah setiap kata benda atau kata sifat yang menunjukkan jumlah sesuatu, atau yang menunjukkan sebuah urutan. [1]

B.  Kaidah-Kaidah ‘Adad dan Ma’dud

Dalam pelajaran kaidah-kaidah 'Adad dan Ma'dud, biasanya 'Adad dibedakan kedalam beberapa bagian , yaitu 'Adad idhafah, 'Adad murokkab, 'Adad ‘Ataf ma’thuf, dan 'Adad ‘uqud. Adapun kaidah-kaidahnya sebagai berikut:[2]

1.    'Adad Idhafah

Yang dimaksud 'Adad idhafah adalah bilangan yang dimulai dari angka 3 (tiga) - 10 (sepuluh). Jika 'adad –'adad tersebut disambungkan atau dimudhafkan dengan suatu isim, maka akan memiliki kaidah-kaidah tertentu, sebagai contohnya adalah sebagai berikut:

¨ ثلاثة رجال , ثلاثة أقلام

¨ ثلاث نساء , ثلاث أيد 

Dari contoh pertama dan kedua tersebut bisa kita lihat, bahwa kedua 'Adad tersebut, yakni kata ثلاثة dan ثلاث dibentuk dengan jenis yang berbeda, contoh yang pertama menggunakan ta’ marbuthah ( mu’annast ),dan ma’dudnya berasal dari isimmudzakkar ( رجال , أقلام ), sedangkan contoh yang kedua tidak menggunakan ta’ marbuthah ( mudzakkar ), dan ma’dudnya berasal dari isim mu’annats نساء , أيد), selain itu ma'dud kedua contoh tersebut dalam bentuk jama’ , dan dibaca jer . Maka dapat kita simpulkan paling tidak ada tiga kaidah yang bisa kita ketahui, yaitu :

a.    Antara 'adad dan ma'dud dalam 'adad idahafah selalu berlawanan dalam hal mudzakkar dan mu’annats

b.    Ma'dud dalam 'adad idhafah harus selalu dibentuk menjadiisim jama’ dan selalu dibaca jer

c.    Ketika melihat ma'dud apakah mudzakkar atau mu'annast , hendaklah dilihat ketika mufradnya, contoh kata جنيهاتbukanlah mu'annast, tapi kita anggap mudzakkar, sebab mufradnya adalah جنيه , jadi bukan ثلاث جنيهات tapi yang benar adalah ثلاثة جنيهات .

d.   Sedangkan untuk bilangan 1 ( satu ) dan 2 ( dua ), selamanya harus sesuai dengan ma’dud dalam halmudzakkar dan mu’annats, contoh : رجل واحد , إمرأة واحدة , رجلان اثنان , إمراتان اثنتان . Jadi, untuk bilangan 1 (satu ) yakni واحد , mu'annastnya adalah واحدة , sedangkan bilangan 2 ( dua ), yakni اثنان untuk mudzakkar , dan اثنتان untuk mu'annats, dan keduanya jika harus dibaca rafa’ ,sedangkan jika dibaca nasab dan jer , اثنين ( untuk mudzakkar ) dan اثنتين ( untuk mu'annast ).

2.    Adad Murokkab

Adad murokkab dimulai dari bilangan 11 (sebelas) – 19 ( sembilanbelas ). Tarkib inipun memiliki aturan-aturannya sendiri, kita ikuti dulu contoh berikut ini :

مكثنا فى الإسكندرية أربعة عشر يوما وخمس عشرة ليلة 

Kata أربعة عشر dan kata خمس عشرة tersusun dengan pola yang berbeda dalam hal mudzakkar dan mu’annastnya, padahal keduanya sama-sama masuk kategori ‘adad murokkab , hal ini karena masing-masing memilki ma’dud yg berbeda, yakni pola pertama ( يوما ) mudzakkar, sedangkan pola keduama’dudnya ( ليلة ) mu’annats . demikian juga terjadi pada puluhannya, yaitu عشر dan عشرة . Maka aturan-aturan itu bisa kita simpulkan sebagaiberikut :

a.    Satuan selalu berlawanan dengan  ma’dud, yakni jikama’dudnya mudzakkar maka satuannya menggunakan ta’ marbuthah, sebaliknya jika, jika ma’dudnya  mu’annasts, maka satuannya tanpa ta’ marbuthah.

b.    Berdeda dengan satuannya, puluhan selalu sesuai denganma’dudnya dalam hal mudzakkar dan mu’annats .

c.    Ma’dud selalu mufrod dan dibaca nasab , karena tamyiz .

3.    ‘Adad ‘Athaf Ma’thuf

Adad ini dimulai dari 21 (duapuluh satu) - 99 (sembilanpuluh sembilan), selain 20, 30, 40 - 90. contoh :

 جاء تسع وتسعون تلميذة 

 عالج الطبيب خمسة وعشرين مريضا

Tidak berbeda dengan ‘adad yang sebelumnya, bahwa satuannya selalu bertentangan dengan ma’dud. Yang membedakan dengan ‘adad murokkab adalah terdapatnya واو العطف yang berada diantara satuan dan puluhan.[20] Untuk puluhannya kita lihat contoh yang pertama dibaca rafa’,sedang contoh yang kedua dibaca nasab, ini karena puluhan tersebut i’rabnya mengikuti i’rab satuan. Artinya jika satuannya dibaca rafa’ , maka puluhan juga dibaca rafa’ ,demikian juga jika satuannya di baca nasab / jer , maka puluhan juga dibaca nasab / jer . Jadi kaidah-kaidah yang bisa kita tarik adalah :

a.    Sama seperti ‘adad sebelumnya, bahwa satuan selalu berlawanan dengan ma’dudnya dalam hal mudzakkar danmu'annats

b.    ‘I’rabnya “puluhan” senantiasa mengikuti “satuan” ( hukum athaf dan ma’thuf ), sedangkan ‘i’rabnya satuan tergantung kedudukannya dalam kalimat, artinya jika satuan tersebut menjadi fa’il misalnya, maka harus dibaca rafa’, jika menjadi maf’ul bih, maka harus dibaca nasab.

c.    Ma’dud senantiasa dibaca mufrad nasab.

4.    Adad ‘uqud

Adad ini berupa puluhan, mulai dari 20, 30, 40, 50 - 90.Sebelum kita lihat aturan-aturannya kita lihat dahulu contohnya :

وواعدنا موسى ثلاثين ليلة 

فى القاعة عشرون طالب وثلاثون طالبة

Puluhan-puluhan yang ada dalam kedua contoh tersebut , dibaca berbeda, contoh yang pertama puluhan dibaca nasab ,sedang contoh yang kedua puluhan dibaca rafa’, hal ini karena masing-masing puluhan tersebut menempati kedudukan yang berbeda dalam kalimat. Pada ma’dud kita lihat dalam bentuk mufrad dan dibaca nasab. Maka kaidahnya adalah :

a.    Pada puluhan berlaku hukum jama’ mudzakkar salimdalam hal ‘I’rabnya, yakni jika harus dibaca rafa’ , maka menggunakan tanda ون ( ثلاثون ), tapi jika harus dibacanasab / jer, maka tandanya adalah ين ( ثلاثين ). Sedangkan cara menentukan i’rabnya, tergantung kedudukannya dalam kalimat.

b.    Ma’dud selamanya berupa isim mufrad dan dibaca nasab .

Dari kaidah-kaidah tersebut, kalau kita cermati sebenarnya aturan yang ada pada tarkib ini, pada dasarnya hanyalah seputar mudzakkar dan mu'annatsnya antara ‘adad danma’dudnya saja, selebihnya adalah aturan-aturan lain yang memang telah ada, misalnya tentang tamyiz yang ada padama’dud tarkib ‘adad murakkab dan athaf ma’thuf, tentangidhafah yang terdapat pada ‘adad idhafah, tentang waw athaf,yang terdapat pada tarkib ‘adad ‘athaf ma’thuf, dan tentang hukum jama’mudzakkar salim, yang terdapat pada tarkib ‘adad ‘athaf ma’thuf dan ‘adad ‘uqud.

Walaupun hanya tentang mudzakkar dan mu'annast, masih sangat terasa betapa banyak aturan yang ada yang terdapat dalam kaidah-kaidah tersebut . Kaidah-kaidah itu hanyalah sebagian dari kaidah-kaidah yang ada, karena sebenarnya masih banyak hal-hal yang belum disampaikan, misalnya tentangbagaimana mudzakkar dan mu'annastnya bilangan satu dan dua,bagaimana kalau ma’dudnya dua, dan terdiri dari mudzakkar danmu'annast, dan sebaliknya, serta bilangan seratus, seribu dan seterusnya. Hal ini dari sisi pengajaran, tentu bisa menyebabkan kesan bagi siswa, bahwa bahasa Arab itu susah, apalagi jika disampaikan oleh guru yang kurang kompeten dibidangnya.

C.  Penerapan Kalimat Dalam Bahasa Arab

Sekali lagi, kaidah itu berbunyi : Bilangan satuan harus selalu berlawanan dengan ma’dud, baik pada adad mufrod, murakkab maupun ‘athaf ma’thuf, dan puluhan pada‘adad murakkab selalu sesuai dengan ma’dudnya dalam hal mudzakkar dan mu'annastnya. Kaidah tersebut kalau kita terapkan dalam kalimat, sebagai berikut:[3]

1.    Adad Idhafah

أقام المسامون بخمس صلوات فى اليوم

Artinya : Orang-orang muslim dalam sehari melakukan sholat lima kali

Kata صلوات adalah jama’ , dan mufradnya adalah صلاة , berupa isim mufrad mu'annast, yang dalam hal ini sebagaima’dud dari bilangan خمس . Sesuai ketentuan, jika adama’dud yang mu'annast, maka ‘adadnya tanpa menggunkan ta’ marbuthah, yaitu خمس .

2.    ‘Adad murakkab

يعلم المدرس خمسة وعشرين طالبا

Artinya : guru itu sedang mengajar duapuluh lima siswa di kelas.

Kata طالبا - yang menjadi ma’dud dalam kalimat tersebut -menunjukkan mudzakkar, maka sesuai dengan ketentuan, bilangan satuannya harus menggunakan ta’ marbuthah,yaitu خمسة .

Kedua contoh diatas adalah contoh kalimat yang mengandung tarkib ‘adadi yang benar menurut ketentuan. Pertanyaannya sekarang adalah, apakah akan terjadi perubahan makna, baik terjadi reduksi atau penambahan terhadap makna dan maksud kalimat tersebut, bilamana kalimat tersebut –tarkib ‘adadinya- disusun dengan tidak mengikuti ketentuan / aturan ?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 



[1] A. Ahmad al Hamlawi, Syaza al Arfu fi Fanni al Sarfi, (Mesir : Al Bab al Habibi, 1957 ) hal. 22

[2] Sakholid Nasution, Reformulasi materi nahwu sebagai solusi alternative upaya mengatasi problematioka pengajaran bahasa Arab, ( Jakarta : 2003 ) hal. 113-114

[3] Rusydi Ahmad Thu’aimah, Ta’limu al lughatu al ‘arabiyah, manahijihi wa asalibihi, (Rabath: Isesco, 1989)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

MAKALAH BAHASA ARAB SIFAT DAN MAUSUF

rpp kelas VIII SEMESTER 2 MENERAPKAN HUKUM BACAAN MAD DAN WAQAF

RESUME MAKALAH BAHASA ARAB ISIM JAMID DAN MUSYTAQ