RESUME mAKALAH bAHASA ARAB SIFAT DAN YANG DISIFATI
SIFAT
DAN YANG DISIFATI
PEMBAHASAN
A. Pengertian SHIFAT ( صِفَة ) - MAUSHUF ( مَوْصُوْف )
Sifat ( الصفة ) ialah kata yang menjelaskan sifat atau keadaan kata
benda sebelumnya. Dan kata benda sebelumnya itulah yang disebut dengan al-mausuf ( الموصوف ).[1] Contoh
: الطالب الجديد . Kata الطالب adalah mausuf,sedangkan kata الجديد adalah siifat.
|
بَيْتٌ جَدِيْدٌ |
=
(sebuah) rumah baru |
|
اَلْبَيْتُ الْجَدِيْدُ |
=
rumah yang baru |
|
بَيْتٌ كَبِيْرٌ وَاسِعٌ |
=
(sebuah) rumah besar lagi luas |
|
اَلْبَيْتُ الْكَبِيْرُ الْوَاسِعُ |
=
rumah yang besar lagi luas |
Dengan melihat contoh di atas, dapat dipahami bahwa al-sifat
wa al-mausuf adalah susunan kalimat yang terdiri atas dua kata atau
lebih,Bila rangkaian dua buah Isim atau lebih, semuanya dalam keadaan Nakirah
(tanwin) atau semuanya dalam keadaan Ma'rifah (alif-lam) maka kata yang di
depan dinamakan Maushuf (yang disifati) sedang yang di belakang adalah
Shifat.Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, di antara kedua kata
tersebut terdapat pengertian “yang”.[2]
Untuk lebih jelasnya susunan kalimat seperti yang
disebutkan di atas, berikut ini akan dikemukakan beberapa contoh :
1.
Mahasiswa baru =
mahasiswa yang baru ( طالب جديد = الطالب الجديد );
2.
Mahasiswi cantik =
mahasiswi yang cantik ( طالبة جميلة = الطالبة الجميلة );
3.
Guru mulia = guru yang
mulia ( استاذ كريم = الاستاذ الكريم );
4.
Pegawai rajin = pegawai
yang rajin ( موظف مجتهد = الموظف المجتهد ).
Istilah lain dari al-sifat wa
al-mausuf adalah al-na’at wa al-man’ut (النعت
والمنعوت ). Meskipun
istilahnya berbeda, tetapi oprasionalnya sama. Tentang al-na’at, ulama
membaginya atas dua bagian, yaitu :
Al-na’at al-haqiqi(النعت
الحقيقى) dan Al-na’at al-sababi ( النعت
السببى).
Al-na’at yang
disebutkan pertama ialah sifat yang menjelaskan keadaan yang disifatinya,
contoh : هو ولد نشيط (dia anak yang rajin). Adapunal-na’at yang
disebutkan kedua ialah sifat yang menjelaskan keadaan kata lain yang ada
hubungannya dengan yang disifatinya, contoh : هو
ولد نشيط والده (dia,
anak yang rajin ayahnya).[3]
B. Lafazh-lafazh yang Dijadikan
Sifat.
Menurut Fuad Ni’mah, sifat (na’at) dapat
dibentuk dari tiga hal, yaitu :[4]
1.
Isim ¨zhahir, seperti kata عظيمة . Contohnya : القاهرة
مدينة عظيمة .
2.
Syibh al-jumlah, baik dalam bentuk zharaf maupun jar
wa majrur.
a. Dalam bentuk zharaf, seperti kata فوق . Contohnya :
للحق صوت فوق كل صوت ;
b.
Dalam bentuk jar
wa majrur, seperti kata من . Contohnya :
نذاع الحان من ورائع النغم .
3.
Jumlah ismiyah atau jumlah fi’liyah.
a.
Dalam bentuk jumlah ismiyah. Contohnya
: مضى يوم برده قارص . Kalimat برده
قارص adalah
sifat dari kata يوم .
b.
Dalam bentuk jumlah
fi’liyah. Contohnya : هذا
عمل يفيد .
Kata يفيد adalah
sifat dari kata عمـل .[5]
Ahmar Thib Raya dan Musda Mulia dalam bukunya menyatakan
bahwa lafal atau isim yang bisadijadikan sifat ialah isim yang
bisa juga dijadikan khabar nubtada’, yaitu :
1.
Al-sifat
al-musyabbahah. Kata sifat dalam
katagori ini meliputi berbagai timbangan, seperti : فعيل
, افعل , اسم الفاعل, اسم المفعول, الاسم بياء النسبة . Untuk
lebih jelasnya berikut ini akan dikemukakan contoh-contohnya:
a.
Dalam timbangan فعيل seperti : ضعيف,
سمين, كريم ;
b.
Dalam timbangan افعل seperti : ابيض,
اسود, اصفر ;
c.
Dalam timbangan اسم
الفاعل seperti
: القائم, النائم, الحاضر ;
d.
Dalam timbangan اسم
المفعول seperti
: المكتوب, المقروء, المشروب ;
e.
Dalam timbangan الاسم
بياء النسبة seperti
: عربي, مصري, اسلامي .
2.
Isim ‘alam. Contoh : - محمد
المصري ;
-فاطمة
المصرية .[6]
C. Ketentuan Khusus dalam al-sifat
wa al-Mausuf
Terdapat beberapa ketentuan yang perlu diperhatikan dalam
menyusun kalimat al-siifat wa al-mausuf. Ketentuan yang
dimaksud, meliputi 11 hal, yaitu:
1.
Apabila yang
disifatinya musakkar, maka sifatnya juga harus musakkar.Contoh
: حضر الطالب الجديد .
2.
Apabila yang
disifatinya muannas, maka sifatnya juga harus muannas.Contoh
: حضرت الاستاذة الكريمة .
3.
Apabila yang
disifatinya nakirah, maka sifatnya juga harus nakirah.Contoh
: - حضر طالب جديد ;
حضرت
طالبة جديدة .
4.
Apabila yang
disifatinya ma’rifah, maka sifatnya juga harus ma’rifah.Contoh
: جاء الاستاذ الكريم ;
جاءت
الاستاذة الكريمة .
5.
Apabila yang disifatinya
tunggal (mufrad), maka sifatnya juga harus tunggal. Contoh
: - دخل الرجل السمين ;
- دخلت
المرأة السمينة .
6. Apabila yang disifatinya musanna, maka
sifatnya juga harus musanna. Contoh : - دخل
العميدان الكريمان ;
دخلت
العميدتان الكريمتان .
7.
Apabila yang disifatinya
jamak berakal, maka sifatnya juga harus jamak. Contoh: - جاء
المديرون الكرام ;
جاءت المديرات
الكريمات .
8.
Apabila yang disifatinya
jamak tidak berakal, maka sifatnya harus tunggalmuannas. Contoh
: - شربت الجواميس الكبيرة ;
- ضاعت
الكتب الجديدة .
9. Apabila yang disifatinya marfu’, maka
sifatnya juga harus marfu’. Contoh
: - الموظف المجتهد
نشيط ;
حضرت
الموظفة النشيطة
10.
Apabila yang
disifatinya mansub, maka sifatnya juga harus mansub.
Contoh : - شربت
القهوة الساخنة ;
تلقيت
الهدية الثمينة .
11. Apabila yang disifatinya majrur, maka
sifatnya juga harus majrur.
Contoh
: - دخلنا على العميد
الكريم ;
- اكتب
بالقلم الجديد .[7]
D. Kedudukan al-Mausuf dan I’rab
siifat-nya
Pada pembahasan berikut ini akan dijelaskan
kedudukan mausufdalam susunan kalimat, yang mana i’rab sifatnya
mengikuti mausuf-nya. Dalam beberapa keadaan, hubungan antara mausuf dengan
sifatnya tetap terpelihara, misalnya :
1.
Sifat pada al-mubtada’. Dalam
hal ini kedudukan sifat mengikuti mausuf-nya, yaitu marfu’. Contoh
: - الطالب الجديد حضر ;
- الطالبة
الجديدة حضرت .
2.
Sifat pada al-khabar. Kedudukan
sifat dengan mausuf-nya sama seperti di atas, yaitu marfu’. Contoh
: - هذا كتاب جديد ;
-هذه
كتب جديدة .
3.
Sifat pada al-fa’il. Sebagaimana
halnya dengan al-mubtada’ dan al-khabar,sifat al-fa’il juga
mengikuti mausuf-nya dalam bentuk marfu’.
Contoh
: - حضر الاستاذ الكريم ;
- حضرة
الاستاذة الكريمة .
4.
Sifat pada al-maf’ul
bih. Dalam hal ini kedudukan sifat mengikuti mausuf-nya,
yaitu mansub.
Contoh : - ساعدت
الرجل الضعيف ;
- ساعدت
الفقيرة الضعيفة .
5.
Sifat pada isim
majrur. Dalam hal ini kedudukan sifat mengikuti mausuf-nya,
yaitu majrur. Contoh : - نظرت
الى العامل القوى ;
- نظرت
الى العمال الاقوياء .[8]
[1] Ahmad
Thib Raya dan Musda Mulia, Pangkal Penguasaan Bahasa Arab, (Jakarta
: PT.Al-Quswa, tth.), Buku II, h. 64.
[3] Abu Bakar
Muhammad, Tata Bahasa Bahasa Arab : Bagian Fi’il dan Isim – Isim yang
Marfu’, (Surabaya : al-Ikhas, tth.), Jilid I, h. 250. Pengertian yang
sama terdapat juga dalam Muhammad Muhy al-Din ‘Abd al-Hamid, al-Tuhfat
al-Saniyyah bi Syarh al-Muqaddimah al-Ajrmiyyah, (Bairut : Dar
al-Kutub al-‘Ilmiyyah, tth.), h. 122-123.
[4] Hifni Bek Dayyab,
dkk. Qawa’idul ‘I-Lughati ‘I- Arabiyah, terj. Chatibul Umam
dkk, Kaidah Tata Bahasa Arab,(Cet. XI: Jakarta ; Darul Ulum Press,
2010),h. 293
[5]
Keterangan
lebih lanjut, baca Fuad Ni’mah, Mulkha¡ Qawaid al-Lugah
al-‘Arabiyyah, (cet.IX; Damsyiq : Dar al-Hikmah li al-°aba’ah wa
al-Nasyr, tth.), h. 52-53.
Komentar
Posting Komentar